Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Bokep Family Aku tertawa kecil. Benarkah? “Chie, sudahlah.”
“Ray, Papa udah nggak ada.”
Kuusap belakang kepalanya, menekan tengkuknya, berusaha melegakannya. Wajahnya terlihat berseri-seri, membuatku sedikit mendongkol karena masuk dalam jebakannya. Dari sudut mataku, kulihat gadis itu meringkuk di jok belakang. Betapa aku menikmati ketakjuban perasaan yang dibawanya. “Ray!” Sebuah suara lirih berbisik di telingaku. Menjentikkan jemarinya memanggil saat aku tergopoh-gopoh memungut rokok mahalku sambil menggerutu. Beginikah perasaanmu sesungguhnya? Dan itulah yang membuatku tertawa. “Kamu sama saja dengan mereka, Ray. Meninggalkan…
“Ray,” Jay berseru di belakangku, “Ingat, sobat. Jay memandang mataku, dan melengos ke arah lain. Ucapan itu sangat pahit dan mengena. “Yang tadi itu,” kata Chie.“Chie, bagiku keperawanan itu sama saja bagi semua orang. Siapa suruh diam,” kataku setelah mendudukkan diriku di sampingnya, dan menyimpan bungkus rokok itu di tempat yang aman.“Ah, Ray,”




















