Aku minggir di tempat yang agak gelap. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut. Bokeb Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Napas kami terhenti. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Liangnya vaginanya sudah basah. Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tapi tidak boleh begitu. Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya. Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Pangkal penisku berdenyut-denyut. “iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya. sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku.




















