Aku sibakkan rambut-rambut tersebut, kumasukkan mulutku ke celahnya dan kusedot cairan lendir yang ada di sekitarnya sampai kering.“Aach.. Bokep Thailand nggak..” aku tidak berani melanjutkan, takut ibu itu marah.Tapi malah dianya dengan santainya yang melanjutkan.“Kamu mau ngomong, nggak tersalurkan ya? Di garasi berjajar dua buah mobil bermerek, warna biru tua dan silver. dari salon.. Belahan dadanya terlihat di balik pakaian senamnya yang terbuka agak lebar di bawah leher.Aku termangu memandang pemandangan yang menggairahkan nafsuku sebagai laki-laki normal. Ibu..” aku nggak melanjutkannya karena aku belum tahu nama ibu pejabat yang kemarin.Aku juga bodoh, kenapa kemarin nggak aku tanyakan ke orang salon.“Ibu Tia maksud adik..” katanya. Aku pikir sedikit aneh, kemarin baru dicuci kok sekarang minta dicuci lagi.Tapi peduli amat, yang penting uang masuk kantong, pikirku.




















