Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Bokepid Aku kembali mengelus pahanya. berdenyut-denyut ga karuan. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Kupegang ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.“Aku mau itu,” bisikku mendekat di telinganya, sambil menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.Dia menggeleng. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat basah. Dan rendanya sedikit tembus pandang. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Aku membuka mataku. Aku kembali mengelus dadanya. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Oh tidak. Kulirik matanya. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Jadi ia terangsang. Tapi aku tidak mau mengambil resiko terdengar.




















